Saya tidak mengira hal ini akan menimpa saya. Selama ini saya merasa
blog saya tidaklah begitu istimewa. Data di Google analytics saya pun menunjukkan grafik yang biasa biasa saja. Hanya tampak seperti bukit bukit kecil dengan kawah kawah yang dalam. Tapi apa yang baru saja saya alami sungguh adalah pengalaman paling tidak menyenangkan sepanjang saya menulis blog. Tulisan saya disalin, diambil, dicopy, dijiplak atau apa sajalah namanya. Sebuah bentuk kriminalitas bagi para penulis blog.
Saat pertama saya menemukan beberapa isi blog saya pindah kehalaman
ini, saya shock. Sebuah reaksi yang cukup wajar bagi wanita emosian seperti saya. Saya lalu segera meninggalkan komentar dengan nada kecewa yang begitu dalam, dengan harapan mendapatkan penjelasan atas apa yang saya lihat dlayar monitor saya. Semenit kemudian saya sudah berkoar koar di
Multiply saya, berharap mendapatkan dukungan dari teman teman saya. Jujur, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan saat itu. Sabar, bukanlah hal yang mudah bagi saya.
Setelah beberapa menit berlalu, kepala saya sudah sedikit mendingin. Komentar dan dukungan teman teman membuat hati saya sedikit melunak. Berfikir disaat hati sedang dingin memang jauh lebih 'bijaksana'. Meski pada kenyataannya saya masih jauh dari sifat itu sendiri.
Jika dibanding dengan teman teman saya yang mengalami hal serupa beberapa waktu yang lalu, saya merasa kasus saya ini jauh lebih ringan. Karena isi blog saya tidak disalin dimedia media komersil seperti yang dialami teman teman saya tersebut. Jelas jelas, karya cipta mereka dijiplak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan tanpa usaha. Tapi apapun bentuknya baik komersil atau tidak, sengaja ataupun tidak, sadar atau tidak, penyalinan tanpa ijin tetap salah satu bentuk pencurian. Sudah sewajarnya jika kita sebagai pihak yang dirugikan merasa sangat kecewa dan marah.
Sebenarnya bukan apa apa. Toh resep resep yang saya tulis disitu kebetulan banyak saya dapatkan dari blog orang, teman, atau beberapa sumber media lainnya ( dengan mencantumkan sumber dan link ). Juga karena sebagian isi blog saya juga tidak begitu penting . Tapi penting atau tidak, bukan berarti isi blog saya bebas di'jamah' terlebih tanpa ijin ( bila melihat isi blog saya yang dicopy, bahkan bila dia minta ijin terlebih dahulu, saya tidak akan mengijinkan ). Yang membuat saya benar benar merasa kecewa adalah, hasil kerja payah saya mempraktekan, mereport, menulis, memotret, upload dan posting diperlakukan dengan tidak adil. Dengan cara dicopy
TANPA IJIN dan menyalin
UTUH isi postingan postingan saya lengkap dengan tulisan bahasa saya dan foto fotonya ( ini yang paling penting ).
Hal lain yang membuat saya begitu tidak terima adalah karena blog si pengopas tidak sesuai dengan isi blog saya yang disalin. Meskipun toh saya ( untungnya ) tidak menemukan secuil pun iklan disana, tapi siapa tahu besok atau lusa dia bakal berubah pikiran untuk memasang beberapa kolom iklan disana. Jangan sampe atau bakal saya kejar sampai ketemu orangnya.
Okelah, saat ini saya sedang menunggu tanggapan dari pemilik blog yang telah mencuri isi blog saya itu. Tapi bila sampai batas waktu yang saya tentukan belum ada tanggapan, maka atas saran kawan kawan, saya akan melaporkan hal ini ke admin Wordpress sebagai host tempat blog tersebut dibuat. Saya sudah mengantongi bukti berupa printscreen dari halaman tersebut. Tapi bila dia bersedia menyelesaikan ini baik baik, saya akan dengan senang hati melupakan kejadian ini dan menutup keluhan saya di Multiply.
Mewakili semua teman teman blogger ( penulis blog ) di Indonesia terutama foodie blogger, saya ingin menuliskan bagaimana proses yang biasa saya lalui untuk membuat sebuah postingan. Besar harapan saya agar peristiwa semacam ini tidak terulang kembali. Agar setelah membaca tulisan ini, siapapun pihak tidak bertanggung jawab yang berniat 'mencuri' hasil karya kita, berfikir seribu kali untuk terlebih dahulu 'meminta ijin' dan menghargai hasil karya kita. Mungkin terlalu muluk muluk, tapi saya sudah berusaha dengan cara saya ini.
Sesuai dengan tema blog saya, saya terlebih dahulu harus mengexplore resep yang ingin saya cari lewat search engine. Masuk satu satu keblog blog yang tertera diresult page. Lalu saya harus memilih salah satu resep yang paling berkenan menurut saya. Ini sudah cukup memakan waktu. Tidak jarang bisa sampai berhari hari.
Setelah itu saya akan mempraktekan resep tersebut. Dan ini tidak gratis. Ada biaya yang harus saya keluarkan juga tenaga yang harus saya peras. Setelah saya berhasil mempraktekan sebuah resep, maka saya akan mendokumentasikannya berupa foto. Anda tahu, proses untuk membuat satu buah foto yang nantinya
mejeng diblog saya tidak semudah menekan tombol rana pada kamera. Pertama saya harus menyiapkan makanan yang akan difoto secantik mungkin. Lalu dilanjutkan dengan menata setting latar. Menyiapkan kamera dan segala properti pendukung lainnya. Tidak jarang saya harus bermandi peluh untuk bisa mendapatkan hasil potretan terbaik. Dan itu butuh berkali kali bidikan kamera.
Setelah beberapa foto saya dapatkan, saya kembali harus bekerja keras menyortir sekian banyak foto foto tersebut untuk diambil satu yang terbaik. Jika sudah, saya harus mengeditnya hingga satu foto ini kelihatan menarik. Setelah foto siap, saya kembali haru bekerja keras menyusun kata demi kata, menuliskannya ke dalam text editor, menekan satu demi satu tombol dikeyboard saya, hingga menjadi beberapa paragraf yang bisa dibaca dan dicerna. Saya tuliskan dengan
bahasa dan versi saya sendiri sesuai dengan pengalaman saya saat mempraktekan resep tersebut. Proses terakhir adalah upload dan posting. Keduanya memerlukan waktu dan biaya. Bisa sampai berhari hari. Dan semua proses panjang dan melelahkan ini semata mata hanya ingin memberikan yang terbaik bagi orang orang yang sudah berbaik hati mengunjungi blog saya.
Lalu, keuntungan apa yang saya dapat ?Jika ada yang mengajukan pertanyaan ini kepada saya, maka akan saya jawab, tidak ada. Bila yang dimaksud adalah keuntungan finansial, ya memang tidak ada. Tapi kepuasan dan kesenangan yang saya peroleh jauh lebih banyak dari pada jumlah rupiah yang bisa dihitung.
Lalu, siapa suruh menulis blog ?Saya cuma bisa bilang, untuk melakukan sesuatu yang kita sukai, maka kita tidak perlu alasan. Bisa saja kita bilang, saya bikin blog biar gampang cari resep yang sudah saya praktekan, atau biar bisa dapat banyak teman, atau hanya sebagai wadah expresi hobi, tapi sejujurnya itu semua hanya bonus yang saya dapat karena alasan mendasar yang mendorong saya menulis blog adalah karena saya
suka.
( Tanyakan pertanyaan ( bodoh ) ini keribuan bahkan jutaan pengguna blog diseluruh dunia ini yang jumlahnya meningkat dari hari kehari. Jawabannya pasti beragam ).